Kunjungi terus web kami dan dapatkan info discound menarik Fast respon Call CS 085645171548 Kami siap antar sampai depan rumah Tersedia Berbagai jenis beras Putih, Merah, hitam, beras organik
Beranda » Artikel Terbaru » Cara Budidaya Padi Jajar Legowo Agar Hasil Maksimal

Cara Budidaya Padi Jajar Legowo Agar Hasil Maksimal

Diposting pada 15 Januari 2019 oleh backrojez | Dilihat: 1.457 kali

TEKNOLOGI JAJAR LEGOWO SUPER
Pengertian
Teknologi Jajar Legowo Super adalah teknologi budidaya
terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1.
Teknologi super ini dihasilkan oleh Balitbangtan setelah melalui
penelitian dan pengkajian pada berbagai lokasi di Indonesia.
Selain menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 sebagai basis
penerapan di lapangan, bagian penting dari teknologi Jajar
Legowo Super adalah:
a. Varietas Unggul Baru (VUB) potensi hasil tinggi,
b. Biodekomposer, diberikan sebelum pengolahan tanah,
c. Pupuk hayati sebagai
seed treatment dan pemupukan
berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS),
d. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik
berdasarkan ambang kendali, serta
e. Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam (
jarwo
transplanter
) dan panen (combine harvester)



Gambar 1. Padi yang ditanam dengan sistem jajar legowo super

Komponen Teknologi dan Teknik Budidaya
Keberhasilan penerapan teknologi Jajar Legowo Super
ditentukan oleh komponen teknologi dan teknik budidaya yang
digunakan.


Varietas Unggul dan Benih Bermutu
Varietas unggul merupakan salah satu komponen utama
teknologi yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi
dan pendapatan petani.

Pemerintah telah melepas ratusan
varietas unggul padi, sehingga petani dapat lebih leluasa memilih
varietas yang sesuai dengan teknik budidaya dan kondisi
lingkungan setempat.

Ketersediaan berbagai alternatif pilihan
varietas unggul pada suatu wilayah akan berdampak terhadap
stabilitas produksi sebagai representasi dari keunggulan adaptasi
dan ketahanan atau toleransi terhadap cekaman biotik dan abiotik
di wilayah tersebut. Varietas unggul yang digunakan adalah yang
memiliki potensi hasil tinggi.


Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan
vigor yang tinggi. Benih varietas unggul berperan tidak hanya
sebagai pengantar teknologi tetapi juga menentukan potensi hasil
yang bisa dicapai, kualitas gabah yang akan dihasilkan, dan
efisiensi produksi.

Penggunaan benih bersertifikat atau benih
dengan vigor tinggi menghasilkan bibit yang sehat dengan
perakaran lebih banyak, sehingga pertumbuhan tanaman lebih
cepat dan merata.


Aplikasi Pupuk Hayati


Pupuk hayati adalah pupuk berbasis mikroba non-patogenik
yang dapat menghasilkan fitohormon (zat pemacu tumbuh
tanaman), penambat nitrogen dan pelarut fosfat yang berfungsi
meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah.


Pupuk hayati Agrimeth memiliki aktivitas enzimatik dan
fitohormon yang berpengaruh positif terhadap pengambilan hara
makro dan mikro tanah, memacu pertumbuhan, pembungaan,
pemasakan biji, pematahan dormansi, meningkatkan vigor dan
viabilitas benih, efisiensi penggunaan pupuk NPK anorganik dan
produktivitas tanaman.


Aplikasi pupuk hayati Agrimeth dilakukan pada pagi hari
(sebelum jam 08.00 pagi) atau sore hari (pukul 15.00-17.00) dan
tidak terjadi hujan. Pupuk hayati hanya diaplikasikan sekali, yakni
pada saat benih akan disemai dengan cara perlakuan benih (
seed
treatment
).


Benih yang telah tercampur pupuk hayati segera disemai,
upayakan tidak ditunda lebih dari 3 jam, dan tidak terkena paparan
sinar matahari agar tidak mematikan mikroba yang telah melekat
pada benih. Sisa pupuk hayati disebarkan di lahan persemaian.

Gambar 2. Aplikasi pupuk hayati pada benih padi
Persemaian


Dalam teknologi Jajar Legowo Super, dianjurkan
menggunakan persemaian sistem dapog karena bibit ditanam
menggunakan alat tanam mesin
Indojarwo transplanter.


Persemaian dengan sistem dapog diawali dengan
pemeraman benih selama dua hari kemudian ditiriskan, lalu
dicampur dengan pupuk hayati dengan takaran 500 gram/25 kg
benih, atau setara untuk 1 ha lahan. Benih disebar pada kotak
dapog berukuran 18 cm x 56 cm dengan jumlah benih sekitar 100-
125 gram/kotak. Kemudian benih disebar merata pada persemaian
dapog.
Dapog juga dapat dibuat secara
insitu menggunakan plastik lembaran dengan media tanam yang 
terdiri atas campuran tanah dan pupuk kandang dengan
perbandingan 3:2.

Video 3. Persemaian dengan sistem dapog


Pada saat berumur 14-17 hari setelah semai (HSS), atau
tanaman sudah tumbuh dengan tinggi 10-15 cm dan memiliki 2-3
helai daun, bibit dari persemaian dapog ditanam ke sawah
menggunakan alat mesin
Indojarwo transplanter. Kebutuhan bibit
antara 200-230 dapog untuk setiap hektar lahan.
Bila menggunakan persemaian biasa, benih diperam dua
hari kemudian ditiriskan dan setelah dicampurdengan pupuk hayati
langsung disebar merata di persemaian. Bibit ditanam saat
berumur 15-18 hari setelah sebar.
Penyiapan Lahan
Kegiatan utama dari penyiapan lahan adalah pelumpuran
tanah hingga kedalaman lumpur minimal 25cm, pembersihan
lahan dari gulma, pengaturan pengairan, perbaikan struktur tanah,
dan peningkatan ketersediaan hara bagi tanaman. Pada tanah
yang sudah terolah dengan baik, penanaman bibit lebih mudah
dan pertumbuhannya menjadi optimal.
Olah Tanah Basah
Lima tahapan penyiapan lahan dengan cara basah adalah:
(1) lahan sawah digenangi setinggi 2-5 cm di atas permukaan
selama 2-3 hari sebelum tanah dibajak, (2) pembajakan tanah
pertamase dalam 15-20 cm menggunakan traktor bajak singkal,
kemudian tanah di inkubasi selama 3-4 hari, (3) perbaikan
pematang yang dibuat lebar untuk mencegah terjadinya
rembesan air dan pupuk; sudut petakan dan sekitar pematang
dicangkul sedalam 20 cm; lahan digenangi selama 2-3 hari

7
dengan kedalaman air 2-5 cm,(4) pembajakan tanah kedua
bertujuan untuk pelumpuran tanah, pembenaman gulma dan
aplikasi biodekomposer; dan (5) perataan tanah menggunakan
garu atau papan yang ditarik tangan, sisa gulma dibuang, tanah
dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang.
Olah Tanah Kering
Olah tanah kering menggunakan traktor roda empat yang
dilengkapi dengan bajak piringan (
disk plow) dan garu piringan
(
disk harrow). Tahapan penyiapan lahan dengan cara kering
adalah tanah dibajak sedalam 20 cm, kemudian digaru untuk
menghancurkan bongkahan tanah dan diratakan pada saat air
tersedia.
Aplikasi Biodekomposer
Biodekomposer adalah komponen teknologi perombak
bahan organik, diaplikasikan 4 bungkus (2 kg/ha) dicampur secara
merata dengan 400 liter air bersih. Setelah itu larutan
biodekomposer disiramkan atau disemprotkan merata pada
tunggul jerami pada petakan sawah, kemudian digelebeg dengan
traktor, tanah dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang
minimal 7 hari.
Biodekomposer M-Dec mampu mempercepat pengomposan
jerami secara insitudari 2 bulan menjadi3-4 minggu. Pengomposan
jerami dengan aplikasi biodekomposer mempercepat residu
organik menjadi bahan organik tanah dan membantu
meningkatkan ketersediaan hara NPK di tanah, sehingga
meningkatkan efisiensi pemupukan dan menekan perkembangan
penyakit tular tanah.
Tanam
Kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting
dalam teknologi budidaya untuk memanipulasi tanaman dan
mengoptimalkan hasil. Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan
sistem tanam pindah antara dua barisan tanaman terdapat lorong
kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman dan dalam
barisan menjadi setengah jarak tanam antar baris. Sistem tanam
jajar legowo bertujuan untuk peningkatan populasi tanaman per
satuan luas, perluasan pengaruh tanaman pinggir dan
mempermudah pemeliharaan tanaman.


Penerapan sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak
tanam 25 cm x 12,5 cm x 50 cm meningkatkan populasi tanaman
menjadi 213.333 rumpun/ha atau meningkat 33,3%, dibandingkan
sistem tegel 25 cm x 25 cm dengan populasi 160.000 rumpun per
ha.


Penanaman dapat menggunakan mesin tanam
Indojarwo
transplanter
atau secara manual. Kondisi air pada saat tanam
macak-macak untuk menghindari selip roda dan memudahkan
pelepasan bibit dari alat tanam. Jika diperlukan, populasi tanaman
dapat disesuaikan dengan cara mengatur jarak tanam dalam
barisan danjarak antar legowo.

Gambar 4. Penanaman menggunakan Indojarwo transplanter

Gambar 5. Pembuatan tanda jarak tanam menggunakan caplak


Penanaman secara manual dilakukan dengan bantuan
caplak. Pencaplakan dilakukan untuk membuat “tanda” jarak
tanam yang seragam dan teratur. Ukuran caplak menentukan
jarak tanam dan populasi tanaman per satuan luas. Jarak antar


baris dibuat 25 cm, kemudian antar dua barisan dikosongkan 50
cm. Jarak tanam dalam barisan dibuat sama dengan setengah
jarak tanam antar baris (12,5 cm). Tanam dengan cara manual
menggunakan bibit muda (umur 15-18 hari setelah sebar), ditanam
2-3 batang per rumpun.
Penyulaman
Jumlah rumpun tanaman optimal menghasilkan lebih
banyak malai per satuan luas dan berperan besar untuk
mendapatkan target hasil lebih tinggi. Pertumbuhan tanaman
sehat dan seragam akan mempercepat penutupan muka tanah,
dapat memperlambat pertumbuhan gulma dan meningkatkan
ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit.


Apabila terjadi kehilangan rumpun tanaman akibat serangan
OPT maupun faktor lain, maka dilakukan penyulaman untuk
mempertahankan populasi tanaman pada tingkat optimal.
Penyulaman harus selesai 2 minggu setelah tanam, atau sebelum
pemupukan dasar.


Pengairan


Tata kelola air berhubungan langsung dengan penguapan
air tanah dan tanaman, sekaligus untuk mengurangi dampak
kekeringan. Pengelolaan air dimulai dari pembuatan saluran
pemasukan dan pembuangan. Tinggi muka air 3-5 cm harus
dipertahankan mulai dari pertengahan pembentukan anakan
hingga satu minggu menjelang panen untuk mendukung periode
pertumbuhan aktif tanaman. Saat pemupukan, kondisi air dalam
macak-macak.


Penyiangan


Pengendalian gulma menjadi sangat penting pada periode
awal sampai 30 hari setelah tanam. Pada periode tersebut, gulma
harus dikendalikan secara manual, gasrok, maupun herbisida.
Gulma yang sering dijumpai di lahan sawah antara lain
adalah
Echinochloa crus-galli (Jajagoan), Cyperus difformis, C.
iria, Ageratum conyzoides
L. (wedusan), Mimosa pudica (putri
malu),
Cynodon dactylon (rumput grinting).

Pada lahan sawah irigasi, penyiangan gulma dilakukan pada
saat tanaman berumur 21 hari setelah tanam (HST) dan 42 HST,
baik secara manual maupun dengan gasrok, terutama bila kanopi
tanaman belum menutup. Penyiangan dengan gasrok dapat
dilakukan pada saat gulma telah berdaun 3-4 helai, kemudian
digenangi selama 1 hari agar akar gulma mati.


Aplikasi herbisida selektif digunakan untuk pengendalian
gulma jenis tertentu. Herbisida yang digunakan di lokasi Demarea
adalah jenis herbisida pratumbuh berbahan aktif pendimethalin
dan metil metsulfuron.

Pemupukan
Pada hasil pertanaman Demarea di Indramayu,
produktivitas >10 t GKP dipupuk dengan dosis urea 200 kg/ha dan
NPK Phonska 300 kg/ha. Penerapan teknologi penanaman padi
sistem Jarwo Super mempunyai target produksi yang tinggi.

Untuk
mencapainya, sistem ini cocok untuk tanah sawah irigasi dengan
kadar P dan K sedang sampai tinggi, serta mempunyai KTK
(kapasitas tukar kation) kategori sedang sampai tinggi. Penetapan
status hara tanah hara P dan K diukur dengan Perangkat Uji
Tanah Sawah (PUTS).

Daerah yang mempunyai potensi untuk
dikembangkan budidaya jajar legowo super yang memiliki status
hara P (fosfat) dan K (kalium) sedang sampai tinggi di sentra
produksi padi, sebagaiman terdapat pada Tabel 1.


Tabel 1. Kabupaten sentra produksi padi di 22 propinsi yang mempunyai
potensi status hara tanah P dan K sedang sampai tinggi untuk
pemupukan berimbang.

No. Propinsi Kabupaten
1. Nangroe Aceh Darussalam Pidie, Aceh Utara
2. Sumatera Utara Langkat, Deli Serdang
3. Sumatera Barat Pesisir Selatan, Agam
4. Riau Indragiri Hilir,Kuantan Sengingi
5. Jambi Tanjung Jabung Timur
Tanjung Jabung Barat
6. Bengkulu Bengkulu Selatan
Rejanglebong
7. Sumatera Selatan Musi Banyuasin, Banyuasin
8. Lampung Lampung Selatan
Lampung Timur
9. Banten Tangerang, Serang
10. Jawa Barat Indramayu
Karawang
11. Jawa Tengah Grobogan, Pati
12. DI Jogjakarta Sleman, Bantul
13. Jawa Timur Jember, Bojonegoro
14. Kalimantan Selatan Barito Kuala, Banjar
15. Bali Tabanan, Gianyar
16. Pulau Lombok Lombok Tengah
Lombok Timur
17. Sulawesi Selatan Bone, Luwu
18. Sulawesi Tenggara Konawe, Konawe Selatan
19. Sulawesi Barat Polewali Mandar, Mamuju
20. Sulawesi Tengah Banggai, Parigimoutong
21. Gorontalo Boalemo, Gorontalo
22. Sulawesi Utara Bolaang Mongondow
Minahasa Selatan

Pemupukan dilakukan tiga kali yaitu 1/3 pada umur 7-10
HST, 1/3 bagian pada umur 25-30 HST, dan 1/3 bagian pada umur
40-45 HST. Kecukupan N dikawal dengan bagan warna daun
(BWD) setiap 10 hari hingga menjalang berbunga. Untuk
memperbaiki dan meningkatkan kesuburan lahan, selain dengan
pupuk kimia juga dapat diaplikasikan pupuk kandang yang telah
matang sempurna dengan dosis 2 t/ha atau pupuk organik
Petroganik dengan dosis 1 t/ha, yang diberikan pada saat
pengolahan tanah kedua.

12
Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
Hama utama tanaman padi adalah wereng batang cokelat,
penggerek batang, dan tikus. Sedangkan penyakit penting adalah
blas, hawar daun bakteri, dan tungro. Pengendalian hama dan
penyakit diutamakan dengan tanam serempak, penggunaan
varietas tahan, pengendalian hayati, biopestisida, fisik dan
mekanis, feromon, dan mempertahankan populasi musuh alami.


Penggunaan insektisida kimia selektif adalah cara terakhir jika
komponen pengendalian lain tidak mampu mengendalikan hama
penyakit. Komponen pengendalian hama dan penyakit tanaman
padi adalah sebagai berikut:
1) Tanam serempak dan pergiliran varietas
2) Penggunaan varietas berpotensi hasil tinggi dan tahan hama
penyakit antara lain Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB,
dan Inpari 33.
3) Mempertahankan keberadaan musuh alami di lingkungan
setempat.
4) Pemantauan populasi hama atau serangan penyakit secara
rutin.
5) Pengendalian hama wereng sedini mungkin, ketika populasinya
pada pertanaman merupakan generasi ke-1. Pada umumnya,
keberhasilan pengendalian wereng cokelat jika sudah
memasuki generasi ke-2 atau ke-3 akan sangat kecil, bahkan
mengalamikegagalan.
6) Penggunaan pupuk N sesuai anjuran (tidak berlebihan)
7) Pengendalian dengan insektisida secara tepat (dosis, sasaran,
waktu, cara dan bahan aktif).
8) Penyebaran penyakit tungro dapat dihambat melalui
penekanan aktivitas pemencaran wereng hijau, dengan
modifikasi sebaran tanaman dengan tanam jajar legowo dan
mengatur kondisi pengairan (menggenangi sawah yang
terserang tungro).
9) Sanitasi lingkungan untuk menghilangkan sumber inokulum
penyakit dan memutus siklus hidup hama melalui eradikasi
ratun/singgang.

13
10) Berdasarkan tangkanpan wereng batang cokelat dan
penggerek batang padi:
Apabila tangkapan wereng batang coklat (WBC) imigran
(makroptera) pada lampu perangkap terdiri atas satu generasi
(seragam), maka persemaian hendaknya dilakukan 15 hari
setelah puncak tangkapan.
Apabila populasi WBC beragam (tumpeng tindih), maka
persemaian dilakukan 15 hari setelah puncak tangkapan ke-2
Waktu tanam yang dianjurkan adalah 15 hari setelah puncak
penerbangan ngengat PBP generasi pertama.


Apabila generasi penggerek batang padi (PBP) di lapangan
tumpeng tindih, waktu tanam dianjurkan 15 hari setelah
puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya.
11) Pestisida nabati yang digunakan pada demfarm Jarwo Super di
Indramayu adalah BioProtector yang berbahan aktif senyawa
eugenol, sitronelol, dan geraniol. Hasil penelitian sebelumnya
menerangkan bahwa senyawa tersebut efektif mengendalikan
berbagai hama penting pada tanaman padi seperti wereng
batang cokelat, keong mas, dan walang sangit. Eugenol yang
terkandung di dalam formula juga bersifat fungisidal sehingga
diharapkan mampu menekan pertumbuhan penyakit yang
disebabkan oleh jamur pathogen.

Bahan aktif pestisida nabati yang diaplikasikan ke
pertanaman beberapa waktu kemudian akan terurai terutama

14
setelah terkena cahaya/sinar matahari dan selanjutnya akan
berfungsi sebagai pupuk organik sehingga secara langsung
mampu memperbaiki pertumbuhan tanaman padi.

 

Hasil penelitian sebeliumnya telah membuktikan bahwa aplikasi
BioProtector mampu meningkatkan produksi tanaman 10
hingga 15%. Pestisida nabati umumnya memiliki daya racun
rendah sehingga pemakaiannya aman bagi manusia dan
hewan ternak. Aplikasi pestisida nabati dapat menjaga
kelestarian serangga berguna seperti serangga penyerbuk dan
musuh alami.


Aplikasi BioProtector sebaiknya dilakukan sekitar
seminggu setelah bibit tanaman padi dipindahkan ke lapang.
Aplikasi BioProtector selanjutnya diulang dua kali dengan
selang waktu 7-10 hari kemudian. Aplikasi terakhir dilakukan
satu atau dua kali saat tanaman padi sudah memasuki vase
generatif dimana bulir-bulir padi mulai terisi.

Aplikasi pada vase tersebut dilakukan untuk mengendalikan populasi walang sangit sekaligus untuk menyediakan hara setelah bahan organik tanaman yang berperan sebagai bahan aktif pestisida
terurai terkena sinar matahari.


12) Pengendalian hama tikus dilakukan sebagai berikut:
Di daerah endemik tikus, penerapan TBS (Trap Barrier
System
) dan tanaman perangkap dilakukan 3 minggu lebih
awal untuk monitoring dan pengendalian. TBS berukuran 25
m x 25 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan
tikus seluas 8-10 ha di sekelilingnya.


LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60cm,
ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1m, dilengkapi
bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk
berselang-seling arah. LTBS dipasang di perbatasan daerah
tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan LTBS
dipindahkan setelah tidak ada tangkapan tikus atau sekurangkurangnya dipasang selama 3 malam berturut-turut.


Metode pengendalian tikus berdasarkan stadia tanaman padi

 

Panen dan Pascapanen
Panen merupakan kegiatan akhir dari proses produksi padi
di lapangan dan faktor penentu mutu beras, baik kualitas maupun
kuantitas.
a. Penentuan umur panen
Panen dilakukan pada saat tanaman matang fisiologis yang
dapat diamati secara visual pada hamparan sawah,yaitu 90-
95% bulir telah menguning atau kadar air gabah berkisar 22-
27%. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut menghasilkan
gabah berkualitas baik dan rendemen giling yang tinggi.
b. Panen
Panen dilakukan menggunakan alat dan mesin panen. Untuk
mengatasi keterbatasan tenaga kerja di pedesaan, telah
dikembangkan mesin pemanen seperti
stripper, reaper, dan
combine harvester. Combine harvester merupakan alat
pemanen produk Balitbangtan yang didesain khusus untuk
kondisi sawah di Indonesia. Kapasitas kerja mesin ini 5 jam per
hektar dan
ground pressure 0,13 kg/cm2, dioperasikan oleh 1
orang operator dan 2 asisten operator, sehingga mampu
menggantikan tenaga kerja panen sekitar 50 HOK/ha (BB
Mektan, 2013). Alsin ini menggabungkan kegiatan
pemotongan, pengangkutan, perontokan, pembersihan, sortasi,
dan pengantongan gabah menjadi satu rangkaian yang
terkontrol. Penggunaan
combine harvester menekan
kehilangan hasil gabah kurang dari 2%, sementara kehilanga
16
hasil jika dipanen secara manual rata-rata 10% (BB Padi,
2014).
c. Pengangkutan
Gabah perlu dikemas untuk menghindari tercecernya gabah
selama pengangkutan. Pengangkutan gabah umumnya
menggunakan truk, bak terbuka, gerobak dorong, sepeda
motor atau sepeda.
d. Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan di bawah sinar matahari langsung
ataudengan mesin pengering. Penjemuran sebaiknya beralas
terpal dengan tebal lapisan gabah 5-7 cm dan dilakukan
pembalikan setiap 2 jam sekali. Penjemuran dihentikan setelah
kadar air gabah mencapai 14% (Gabah Kering Giling/GKG).
Suhu pengeringan benih jika menggunakan
dryer tidak
melebihi 40-45
oC, sedangkan untuk gabah konsumsi tidak
melebihi 50-55
oC.
e. Pengemasan
Gabah dikemas dalam karung atau kantung plastik yang
berfungsi sebagai wadah, melindungi gabah dari kontaminasi,
dan mempermudah pengangkutan.
f. Penyimpanan
Penyimpanan dengan teknik yang benar dapat memperpanjang
umur simpan gabah/benih serta mencegah kerusakan beras.
Proses respirasi yang masih berlangsung pada gabah dapat
menyebabkan kerusakan seperti tumbuh jamur sehingga mutu
gabah turun. Ruang penyimpanan sebaiknya bebas dari hama
dan penyakit. Fumigasi dan pemasangan kawat berperan
penting untuk menghindari kerusakan gabah dari serangan
tikus, burung dan kutu. Ruang penyimpanan perlu memiliki
ventilasi yang cukup agar tidak lembab. Gabah atau benih yang
telah dikemas dalam kantung atau karung disusun dan
ditempatkan diatas palet kayu.

17
KEUNGGULAN TEKNOLOGI JAJAR LEGOWO SUPER
Kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting dalam
teknologi budidaya untuk memanipulasi tanaman dan
mengoptimalkan hasil. Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan
sistem tanam pindah antara dua barisan tanaman terdapat lorong
kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman dan dalam
barisan menjadi setengah jarak tanam antar baris. Sistem tanam
jajar legowo bertujuan untuk peningkatan populasi tanaman per
satuan luas, perluasan pengaruh tanaman pinggir dan
mempermudah pemeliharaan tanaman.

Penggunaan jarak tanam tidak beraturan menurunkan hasil
padi 20-30%. Penggunaan jasa tanam dengan sistem borongan
seringkali tidak menjamin optimalisasi kerapatan tanam. Salah
satu komponen teknologi dalam inovasi PTT padi sawah adalah
sistem tanam jajar legowo. Sistem tanam jajar legowo bertujuan
untuk meningkatkan populasi tanaman per satuan luas.
Teknologi Jajar Legowo Super merupakan implementasi
terpadu teknologi budidaya padi berbasis cara tanam jajar legowo
2:1 yang meliputi:

(1) penggunaan benih bermutu dari VUB potensi
hasil tinggi,

(2) pemberian biodekomposer,

(3) pemberian pupuk
hayati dan pemupukan berimbang,

(4) pengendalian organisme
pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu, dan

(5) penggunaan
alat mesin pertanian terutama untuk tanam dan panen.
Beberapa keunggulan yang melengkapi cara tanam jajar
legowo super adalah:

(1) pemberian biodekomposer pada saat
pengolahan tanah ke dua mampu mempercepat pengomposan
jerami,

(2) pemberian pupuk hayati sebagai seed treatment yang
dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman),
penambat nitrogen dan pelarut fosfat serta peningkatan kesuburan
dan kesehatan tanah,

(3) pestisida nabati yang efektif dalam
pengendalian hama tanaman padi seperti wereng batang cokelat,
dan

(4) penggunaan alat mesin pertanian untuk penghematan
biaya tenaga kerja serta pengurangan kehilangan hasil panen.

18

Jual Benih Padi Lengkap

Pengunjung Juga Mencari:

  • sistem tanam jajar legowo
  • cara budidaya padi di jawa barat
  • cara membuat papan sebaran padi
  • Cara membuat tabela manual
  • cara menghitung populasi jajar legowo
  • garisan padi
  • jajar legowo super
  • padi if 17
  • sistem tanam dengan hasil maksimal

Bagikan informasi tentang Cara Budidaya Padi Jajar Legowo Agar Hasil Maksimal kepada teman atau kerabat Anda.

Cara Budidaya Padi Jajar Legowo Agar Hasil Maksimal | j-rice.id | 0812.1494.7225

Belum ada komentar untuk Cara Budidaya Padi Jajar Legowo Agar Hasil Maksimal

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
QUICK ORDER
Benih Padi Mugibat

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

*Harga Hubungi CS
Ready Stock
*Harga Hubungi CS
Ready Stock
OFF 12%
QUICK ORDER
Mpasi Red Fit

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 22.000 Rp 25.000
Ready Stock
Rp 22.000 Rp 25.000
Ready Stock
Limited Edition
OFF 14%
QUICK ORDER
Curthane

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 60.000 Rp 70.000
Ready Stock
Rp 60.000 Rp 70.000
Ready Stock
SIDEBAR

Alamat Kantor

Alamat Kantor :

Graha Indah Paciran Blok E4-No 7

Dsn Tepanas RT 02 RW 03 Ds. Kranji Kec. Paciran

Lamongan- Jatim

62264

TLP 0856 4517 1548

WA 0812 1494 7225